Jumat, 30 Desember 2016

Rolade Tenggiri



Bahan:
  • 500 gr fillet ikan tenggiri, haluskan
  • 1 putih telur ayam, kocok lepas
  • 100 ml air es
  • 50 g wortel, potong dadu ½ cm, rebus
  • 2 siung bawang putih, haluskan
  • 1 batang bawang daun, iris halus
  • 2 sdt minyak wijen
  • 5 g jamur kuping kering, rendam air panas hingga mengembang, iris halus
  • 3 sdm tepung kanji, ayak
  • 20 butir telur puyuh rebus, kupas
  • 1 butir telur ayam, kocok lepas


Kulit:
  • 3 butir telur ayam, kocok lepas
  • ½ sdt garam
  • ½ sdt merica bubuk

Cara membuat:
  1. Campur ikan tenggiri, putih telur, air es, potongan wortel, bawang putih, bawang daun, minyak wijen, jamur kuping, dan tepung kanji. Aduk rata. Bagi menjadi 4 bagian.
  2. Kulit: Campur telur, garam, dan merica bubuk, aduk rata. Buat 4 lembar dadar tipis menggunakan wajan datar antilengket diameter 22 cm. Angkat.
  3. Bentangkan 1 lembar dadar telur. Taruh 1 bagian adonan ikan di atasnya, ratakan. Letakkan 5 buah telur puyuh rebus berjajar di satu sisinya. Gulung perlahan hingga padat. Bungkus dengan aluminium foil, kukus selama 30 menit. Angkat. Dinginkan.
Potong rolade ukuran 2½ cm. Sajikan.

Selasa, 04 Desember 2012

SAJAK BISU


oleh Misrawaty Lieblich pada 4 September 2012 pukul 7:58 ·

Kalimatku karam

Di laut dalam...
Rinduku menitip salam
Di sunyiku membenam


Prosaku lepas...

Di tepian hati menghempas
Mimpimu terbebas
dalam riuh yang tak tertebas


Akankah kita menebus
jarak yang membatas
rindu mendekap...
dalam buaian harap...

akankah kita menghembus

kecurigaan meretas
membunuh prasangka
dalam tikaman masa

dalam sajak-sajak lirih

dalam bait-bait perih
kurangkai sajak rindu
dalam do'a membisu






Ilustrasi Puisi
picture by Google

Sabtu, 21 Januari 2012

TEATER SEMU

Entah dari mana awalnya rasa itu datang. Cerita kita hadir dengan sangat tergesa-gesa. Tak tau siapa yg memulai rasa ini. dan sampai sekarang pun kita masih memperdebatkan awal cerita ini dan saling menyalahkan siapa yang memulainya,



Dan ketika kumeminta kau mengakhiri semua ini, jawabmu "aku tak bisa", hanya itu yang bisa kau ucapkan. Tanpa pernah kau pedulikan rasa yang sudah terlanjur menjebak kita berdua ke dalam keadaan yang rumit ini.


Aku dengan kisah awalku, bukankah semula sudah kau tau itu , sedang kamu dengan kisah awalmu yang kau jadikan mistery menarik kisahku ke dalam kisahmu. jadilah kolaborasi kisah entah berantah.

lalu semua permasalahan didalamnya, aku pun bingung, apakah ini sudah klimaksnya yaa Tuhan,, karena aku sadari, penulis sebenar dari kisah  ini adalah Tuhan yang menyutradarainya.

Kita memulai peran kita masing-masing di dalam cerita ini, dengan tidak sungguh-sungguh bukan???,, lalu kenapa harus ada rasa yang begitu dalam tertancap di hati kita???,,

Ternyata kita begitu menghayati peran kita yang tak sungguh-sungguh itu menjadi nyata ke dalam jiwa, dan kita terbakar di dalamnya. Cerita nyata dari dunia yang tak nyata.
TUHAN,, kami masih belum menemukan jawaban dari peran yang KAU berikan ini yaa Tuhan,,, apakah punya arti untuk kehidupanku?? atau kehidupan seseorang???,, lalu mengapa kau berikan peran ini yaa TUHAN,, kalau Kau tau kami tak mampu menjawabnya...

Namun entah kenapa peran itu seolah berhenti di suatu titik,, bukan juga berakhir,, mungkin saja rehat sejenak sebab kehabisan ide cerita.

Lalu pertanyaanku,, apa pesan moral dari cerita ini yaa Tuhan..., apa kami hanya sekedar memainkannya??? Lalu di bawa kemana perasaan yang hadir secara tergesa-gesa itu?? apa ia lenyap secara tergesa-gesa pula??

Jumat, 20 Januari 2012

Rumah semu punya kita....



Ini rumah kita
Ini milik kita...
Saling berbagi...
Meski di dunia yang tak nyata...

Tapi ini milik kita...
Ini angan kita...
Segalanya kita yg punya...


Aku sebagai dewi malammu...
Dan kau sebagai bintang malamku...
Lagu-lagu sunyi menjadi anak anak kita...

Buah dari kerinduan yang tak terpahamkan
Oleh garis Tuhan yang pun tak kita mengerti...
Tapi ini tetap rumah kita....

Rumah yang tanpa sengaja terbangun
Dari potongan potongan komunikasi...
Dari dunia semu,, menjadi dunia nyata....

Meski masih tak terpahamkan..
Dan tak akan pernah terpahamkan...
 Ini akan menjadi rumah kita...



Minggu, 20 November 2011

ANGGUR CINTA

Kegelisahan yang tertuang
Dalam tiap wacana-wacana puitis
Adalah luapan kerinduanku
Yang tak bisa lagi kubendung



Anggur cinta yang kau suguhkan untukku
Ternyata terlalu pahit untuk kutenggakkan
Untuk menyelaraskan cintaku padamu


Cintamu telah memabukkanku
Mengaburkan nuansa yang ingin kunikmati
Sehingga antara cinta dan hasrat
Tak dapat lagi aku bedakan

Keduanya seperti membaur
Berdansa dan menari di atas kepalaku
Norma tak bisa lagi mengendalikan
Hati yang menggila karena hadirmu
Biarlah kamu saja yang menjadi kecintaanku









Senin, 14 November 2011

DENGAN SEGALA


Dengan segala  nista
Aku kumpulkan patahan-patahan keberanianku
Untuk menyatakan kerinduanku padaMu




Dengan segala dusta
Aku adukan rahasiaku hanya kepadaMu
Sebab aku tak bisa berbohong padaMu



Dengan segala cinta
Aku umbar segala hasratku
Untuk menemukan cintaMu


Dengan segala pinta
Aku berharap hanya kepadaMu
Halalkanlah ia untukku


Dengan segala derita
Telah kutempa cerita cintaku
Mengikuti alur naskah takdirMu






RUMAH CINTA



Angin yang berlalu
Sampaikan salam rinduku padanya



Pada dirinya, yang tak sempat kusapa
Pada dirinya, yang belum sempat memperkenalkan diri
Pada dirinya, yang selalu melempar senyum untukku
Pada dirinya yang telah mengetuk pintu hatiku
Yang bertandang dan menjambangi rumah cintaku

Belum sempat kuperkenalkan diriku
Belum sempat kubuka pintu hatiku
Ia pulang tanpa menyebutkan namanya



Padamulah sang angin
Ingin aku menitip salam rinduku
Sampaikan padanya, bahwa aku akan menunggunya
Membuka pintu yang telah diketuknya
“ masuklah ke dalam rumah cintaku”


Ilustrasi Puisi
picture by google