Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Mei 2020

DILEMA

Ingin aku tikam cintamu,,tepat di jantungmu,,
yg masih menyisakan ruang
buat kenangan tentang seseorang di masa lalumu

 dengan cara bagaimana lagi
inginku hapus dirinya dari hatimu
yang ternyata terlalu membekas di memorymu

entah mantera apa yang sudah diberikannya padamu
sehingga bayangnya masih sering bertandang ke dalam mimpi2mu dan mimpinya

dosaku telah mencemburui dirinya
apakah harus kubayar dengan sedikit murka???
sayangnya aku tak bisa memurkai orang yang sangat aku cintai

betapa sangat ingin aku mengutukmu
"terkuburlah jasadmu bersama hasratmu tentangnya"
seolah memberi kemenangan buatku
yang pada akhirnya hanay akan menjadikan aku seorang pecundang

dalam sujud malamku,,aku hanya bisa meminta kepadaMU Tuhan
cukuplah Kau TUhan yang menjadi kecintaanku


Puisi kekecewaan
sumber gambar By Pixabay

Sabtu, 02 Mei 2020

Langkah Hati

Ke manakah hati ini akan melangkah pergi
Setelah terusir dari hatimu

Kemanakah bimbang ini kubawa serta
Menjelajahi luasnya semesta

Sementara,, hati ini masih sepi
Tak tau menempuh jalan mana yang Kau hendaki Tuhan...

Berharap sejuta sesalmu menyusul
Keluar dari lisanmu meski kelu...

Tapi, saat maaf itu kau bingkis
Yang tersisa cuma maaf saja...

Sebab hati sudah terpahat duka
Dan air mata sudah terlanjur luluh
Yang tak bisa kutarik kembali
Walau ia telah mengering....

Puisi kekecewaan
Sumber gambar By Pixabay


Kamis, 30 April 2020

TAWANAN CINTA / PRISIONER OF LOVE

2 Januari 2011 pukul 00.24
TERBIT DI CATATAN KU DI FACEBOOK   
Kutemukan rantai kebohongan 
Yang kau pintal dari kenangan masa lalumu
Seketika aku merasa berada d titik tergelap hidupku, 

Mencari setitik pendaran cahaya. 
Agar aku bisa membuktikan kebenaran, walau perih.

Jangan menyimpan duri di hatimu 

karena itu akan melukai seseorang.
Begitulah dustamu kuibaratkan dalam bahasa hatiku.
Sesekali brcermin pada masa lalu, 
Bukan berarti menghidupkan kembali 
Kenanganmu tentang orang-orang 
yang pernah menjadi  masa lalumu


patah hati
Sumber gambar By Pixabay

Memilikimu dalam ikatan takdir 

ternyata tak menjadikanku sebagai pemenang hatimu
enggan cintaku memaksamu mencintaiku seumur hidupmu dalam keterpaksaan, sebab kini aku mnjdi tawanan oleh cintamu 

Biarlah hanya kau dan TUHAN yang tau itu

Jumat, 03 April 2020

NISAN BERNAMA CINTA

Telah Tuhan sempurnakan
Ejaan kalimat cinta untukmu..
lalu mengapa hatimu masih mendustai
Cinta yang dihadirkanNya untukmu...???
Begitu besarkah keraguan hatimu???

mengapa tak kau beri satu alasan untuknya???
agar cintanya berlalu dari hadapanmu
dengan pamit secara baik-baik???
bukankah dia datang secara baik-baik pula???

Satu Alasan saja...
Cukup satu alasan ...
Setelah itu biarkan dia pergi
atau pahat saja  cinta itu
diatas nisan tak bernama
lalu biarkanlah hatimu menguburnya
jika ia memang tak pantas kau kenang....





ilustrasi puisi

Rabu, 25 Maret 2020

KALAU

Kalau mentari bisa beri cahayanya untuk bumi
Maka biarkan aku sinari duniamu
Kalau air lautan bisa penuhi samudera
Maka biarkan aku selami duniamu
Kalau delta bisa jadi benua
Maka ijinkan aku mengayuh biduk bersamamu
Dan jikalau  masih ada ragu 
terbersit disisi ruang batinmu
lalu untuk apa aku ada di sisimu

Senin, 23 Maret 2020

Langkah Hati

Ke manakah hati ini kan melangkah pergi
Setelah terusir dari hatimu

Kemanakah bimbang ini kubawa serta
Menjelajahi luasnya semesta

Sementara,, hati ini masih sepi
Tak tau menempuh jalan mana yang Kau hendaki Tuhan...

Berharap sejuta sesalmu menyusul
Keluar dari lisanmu meski kelu...

Tapi, saat maaf itu kau bingkis
Yang tersisa cuma maaf ...

Sebab hati sudah terpahat duka
Dan air mata telah terlanjur luluh
Yang tak bisa kutarik kembali
Walau ia telah mengering....

Rabu, 18 Maret 2020

Diammu...., Amarahku..., dan Lelahmu

.... diammu,
menghadirkan banyak kekeliruan
dalam benakku yang telah kau buat kacau

....sepimu,
melahirkan banyak prasangka
dalam rahim rindu yang telah kau buat galau

diammu..., sepimu....,
telah membuat perasaanku terluka
dan memuncakkan amarahku
karena ketidakberdayaanku melihat diammu...
memandangi sepimu...

dan tanpa kusadari pula
amarahku karena kekeliruan yang hadir tanpa musabab
ternyata membuat hatimu lelah...

dengan cara apa kusudahi semua rasa ???
dengan kata apa kusumpahi setiap masa ???
sebab kini amarahku bertekuk lutut
dihadapan diammu





Rabu, 23 Oktober 2019

SAJAK BISU

oleh Misrawaty Lieblich pada 4 September 2012 pukul 7:58 ·

Kalimatku karam

Di laut dalam...
Rinduku menitip salam
Di sunyiku membenam


Prosaku lepas...

Di tepian hati menghempas
Mimpimu terbebas
dalam riuh yang tak tertebas


RUMAH SEMU PUNYA KITA

Ini rumah kita
Ini milik kita...
Saling berbagi...
Meski di dunia yang tak nyata...

Tapi ini milik kita...
Ini angan kita...
Segalanya kita yg punya...



ANGGUR CINTA


Kegelisahan yang tertuang
Dalam tiap wacana-wacana puitis
Adalah luapan kerinduanku
Yang tak bisa lagi kubendung


Anggur cinta yang kau suguhkan untukku
Ternyata terlalu pahit untuk kutenggakkan
Untuk menyelaraskan cintaku padamu



DENGAN SEGALA

Dengan segala  nista
Aku kumpulkan patahan-patahan keberanianku
Untuk menyatakan kerinduanku padaMu



Dengan segala dusta
Aku adukan rahasiaku hanya kepadaMu
Sebab aku tak bisa berbohong padaMu



RUMAH CINTA



Angin yang berlalu
Sampaikan salam rinduku padanya


Pada dirinya, yang tak sempat kusapa
Pada dirinya, yang belum sempat memperkenalkan diri
Pada dirinya, yang selalu melempar senyum untukku
Pada dirinya yang telah mengetuk pintu hatiku
Yang bertandang dan menjambangi rumah cintaku



TUHAN, Kusandarkan Cinta Padamu




Tuhan ………..
Tempat segala cinta bermuara
Tempat segala rindu bersumber
Seperti sebuah mata air yang menjadi sungai
Mengalirkan sejuta riak-riak asmara
Membawa perahu kasih
Menjelajahi pemaknaan hidup
Dalam mahligai suci nan indah



MERINDUKAN KEMATIAN

Kemarin …….
Kematian bertandang ke dalam khayalku
Mengundangku makan malam bersama
Lalu  mengajakku melihat-lihat sebuah taman
Yang dihiasi oleh bunga-bunga sakratul maut


BANGAU BERSUARA PARAU

“kemanakah perginya burung bangau
Berkoar-koar mengumbar janji dengan suara parau
Tanpa perduli ini sudah lewat musim kemarau”

Langit kelabu menceritakan warna muram hatinnya
Kepada pelangi yang hanya datang setelah gerimis senja
Kepada beringin yang hanya terpaku di tempatnya


SEPI MENIKAM RINDU

Sepi bunuh diri satu jam yang lalu

Setelah menikam rindu, ia lari tergesa-gesa 
Meninggalkan tempat kejadian perkara, 
yang masih bersimbah darah

Rasa sesal pun memaki tak dapat menahan amarah
Khilaf  pun mengutuk tuan sepi seperti bara
“kemanakah ia melarikan diri,
Begitu tegakah ia membunuh rindu?
Rindu yang telah dinikahinya bertahun-tahun




Selasa, 04 Desember 2012

SAJAK BISU


oleh Misrawaty Lieblich pada 4 September 2012 pukul 7:58 ·

Kalimatku karam

Di laut dalam...
Rinduku menitip salam
Di sunyiku membenam


Prosaku lepas...

Di tepian hati menghempas
Mimpimu terbebas
dalam riuh yang tak tertebas


Akankah kita menebus
jarak yang membatas
rindu mendekap...
dalam buaian harap...

akankah kita menghembus

kecurigaan meretas
membunuh prasangka
dalam tikaman masa

dalam sajak-sajak lirih

dalam bait-bait perih
kurangkai sajak rindu
dalam do'a membisu






Ilustrasi Puisi
picture by Google

Sabtu, 21 Januari 2012

TEATER SEMU

Entah dari mana awalnya rasa itu datang. Cerita kita hadir dengan sangat tergesa-gesa. Tak tau siapa yg memulai rasa ini. dan sampai sekarang pun kita masih memperdebatkan awal cerita ini dan saling menyalahkan siapa yang memulainya,



Dan ketika kumeminta kau mengakhiri semua ini, jawabmu "aku tak bisa", hanya itu yang bisa kau ucapkan. Tanpa pernah kau pedulikan rasa yang sudah terlanjur menjebak kita berdua ke dalam keadaan yang rumit ini.


Aku dengan kisah awalku, bukankah semula sudah kau tau itu , sedang kamu dengan kisah awalmu yang kau jadikan mistery menarik kisahku ke dalam kisahmu. jadilah kolaborasi kisah entah berantah.

lalu semua permasalahan didalamnya, aku pun bingung, apakah ini sudah klimaksnya yaa Tuhan,, karena aku sadari, penulis sebenar dari kisah  ini adalah Tuhan yang menyutradarainya.

Kita memulai peran kita masing-masing di dalam cerita ini, dengan tidak sungguh-sungguh bukan???,, lalu kenapa harus ada rasa yang begitu dalam tertancap di hati kita???,,

Ternyata kita begitu menghayati peran kita yang tak sungguh-sungguh itu menjadi nyata ke dalam jiwa, dan kita terbakar di dalamnya. Cerita nyata dari dunia yang tak nyata.
TUHAN,, kami masih belum menemukan jawaban dari peran yang KAU berikan ini yaa Tuhan,,, apakah punya arti untuk kehidupanku?? atau kehidupan seseorang???,, lalu mengapa kau berikan peran ini yaa TUHAN,, kalau Kau tau kami tak mampu menjawabnya...

Namun entah kenapa peran itu seolah berhenti di suatu titik,, bukan juga berakhir,, mungkin saja rehat sejenak sebab kehabisan ide cerita.

Lalu pertanyaanku,, apa pesan moral dari cerita ini yaa Tuhan..., apa kami hanya sekedar memainkannya??? Lalu di bawa kemana perasaan yang hadir secara tergesa-gesa itu?? apa ia lenyap secara tergesa-gesa pula??

Jumat, 20 Januari 2012

Rumah semu punya kita....



Ini rumah kita
Ini milik kita...
Saling berbagi...
Meski di dunia yang tak nyata...

Tapi ini milik kita...
Ini angan kita...
Segalanya kita yg punya...


Aku sebagai dewi malammu...
Dan kau sebagai bintang malamku...
Lagu-lagu sunyi menjadi anak anak kita...

Buah dari kerinduan yang tak terpahamkan
Oleh garis Tuhan yang pun tak kita mengerti...
Tapi ini tetap rumah kita....

Rumah yang tanpa sengaja terbangun
Dari potongan potongan komunikasi...
Dari dunia semu,, menjadi dunia nyata....

Meski masih tak terpahamkan..
Dan tak akan pernah terpahamkan...
 Ini akan menjadi rumah kita...



Minggu, 20 November 2011

ANGGUR CINTA

Kegelisahan yang tertuang
Dalam tiap wacana-wacana puitis
Adalah luapan kerinduanku
Yang tak bisa lagi kubendung



Anggur cinta yang kau suguhkan untukku
Ternyata terlalu pahit untuk kutenggakkan
Untuk menyelaraskan cintaku padamu


Cintamu telah memabukkanku
Mengaburkan nuansa yang ingin kunikmati
Sehingga antara cinta dan hasrat
Tak dapat lagi aku bedakan

Keduanya seperti membaur
Berdansa dan menari di atas kepalaku
Norma tak bisa lagi mengendalikan
Hati yang menggila karena hadirmu
Biarlah kamu saja yang menjadi kecintaanku